Tittle : Because Bad Girl want Good Boy too
Author : @eonnie
Cast : Jung Hanna (OC), Jisoo (Joshua) , Hansol (Vernon)
Other cast : temukan sendiri
Genre : Romance
Leght : One shoot
Liburan awal musim dingin sudah berakhir, para siswa siswi dari sekolah berbeda berbagi jalan untuk bisa pergi kesekolah masing-masing, bau kue dari kedai tiramisu di persimpangan jalan dekat sekolah seakan membuat kakiku ingin terbang dan duduk di kedai untuk menikmati segelas cappucino hangat dan sepotong tiramissu dengan cream mocca pas sekali dengan cuaca hari ini walau salju belum turun tapi ini cukup dingin untuk alasan pergi kesekolah, aku tak suka kesekolah tapi mau bagaimana lagi aku harus pergi kesekolah dan melupakan tiramissu itu.
"Sialan!" umpatku ketika aku hampir saja terpeleset, untung saja seseorang menahan tubuhku dari belakang.
"Jisoo~yaa" seruku , kupeluk pria itu dia adalah kekasihku
"Hati-hati" ucapnya lembut seraya mengelus rambutku
"Kau sejak kapan dibelakangku? Kenapa tak menyusulku dan berjalan bersama?" tanyaku panjang
"Aku senang melihatmu dari belakang, bagaimana liburanmu?" tanya Jisoo lagi
"Yak! Bahkan kau tak menghubungiku seminggu penuh dan kau menanyakan liburanku?" kesalku, Jisoo mencubit bibirku yg mengerucut.
"Aku harus mewakili sekolah untuk lomba essay, bahkan selama liburan aku tak melihat ponsel sama sekali, maaf yah" ucap Jisoo padaku , ia tersenyum manis, dan selalu membuatku memaafkannya. Tapi sebenarnya bukan memaafkannya lebih tepatnya aku tak peduli.
"Belajar yang baik" Jisoo melambaikan tangannya padaku setelah aku masuk kekelas, kelas kami berbeda, tentu saja sekolah membagi kelas berdasarkan peringkat dari peringkat dengan kemampuan akademik yg baik dan kelas dengan kemampuan non akademik, atau juga kelas untuk para pemberontak seperti kelasku, kelas dimana ribel dan para trouble maker beberkumpul,sementara Jisoo tentu saja di kelas utama, kelas dengan basic paling baik diantara yg lain, bahkan aku sempat berfikir untuk apa siswa dikelas itu bersekolah? Mereka sudah pandai bahkan guru sering meminjam kejeniusan mereka untuk membantu mengatasi kelasku.
"Hanna" panggil seseorang dari ambang pintu kelasku, mataku berbinar ketika tau siapa yg sudah berdiri disana, aku berlari kecil menuju kearahnya dan membawanya masuk kedalam kelasku.
"Aku merindukanmu" ku kecup bibirnya singkat
"Kita baru bertemu tadi malam" jawabnya
"Aku selalu merindukanmu" ucapku lagi, ia tersenyum
"Yak! Hansol Hanna! Jangan mengumbar kemesraanmu dikelas" protes ketua kelasku bernama Junhui itu, kujulurkan lidahku sebal
"Kau iri karena masih belum memiliki kekasih?"
"Hey, hanya saja ini masih pagi"
"Yak! Junhui, berani berkomentar sekali lagi kubunuh kau" teriakku kesal, Hansol disebelahku hanya terkekeh, Junhui juga langsung pergi menuju bangku belakang. Jadi akan aku jelaskan, namaku Jung Hanna, seluruh siswa dan siswi SMU Chunyang ini tau jika aku bukan siswi baik, dan aku mengakuinya. Aku tak suka sekolah dan aku suka pergi kediskotik. Bertanya soal Jisoo dan Hansol ? Yah mereka berdua kekasihku dan semua tau itu , namun karena rumor yg beredar jika aku adalah salah satu anggota berandalan semua takut dan tak mengadu pada Jisoo, Jisoo adalah pacar pertamaku sebelum Hansol, entah bagaimana bisa siswa tampan dan pintar itu menyatakan cinta padaku 3 bulan lalu semua juga kaget saat Jisoo dengan malu mengakuinya saat jam olahraga kami yg kebetulan sama. Jisoo bukan seleraku tapi karena dia tampan, kaya dan juga pandai tak ada alasan lain selain menerimanya, selama 3 bulan Jisoo memang cukup baik dan tak peduli tentang rumor-rumor gila yg mengatakan aku penyuka sexs bebas, padahal walau aku begitu buruk aku tak sedikitpun tertarik pada hal berbau sexs, awalnya memang menyenangkan berpacaran dengan Jisoo, aku tambah populer tapi karena kesibukannya sebagai siswa emas sekolah kami, dia sibuk dan hanya menghubungiku seperlunya, kami jarang berkencan atau bahkan sama sekali tak pernah. Aku dan jisoo hanya bertemu disekolah, lalu Hansol kapten basket sekolah datang dan memintaku menjadi pacarnya, padahal ia tau aku dan Jisoo telah berkencan, namun Hansol tak mempermasalahkan hal itu, karena Hansol adalah tipe pria idamanku tampan, pemberontak dan juga selalu ada disaat aku butuh aku dan Hansolpun juga menjalin hubungan. Semakin hari Jisoo semakin membosankan tapi aku tak bisa memutuskan hubunganku begitu saja karena berkat Jisoo pekerjaan sekolahku semakin ringan, lembar kerja untuk essay liburanku bahkan selesai tanpa perlu kusentuh, tentu Jisoo yang menyelesaikannya, sepertinya Jisoo sangat menyayangiku tak mungkin aku sia-siakan orang yg bermanfaat itu.
"Sepulang sekolah antar aku membeli sepatu basket ya?" tanya Hansol, aku mengangguk
"Aku mencintaimu" bel tanda masuk sudah berbunyi dan Hansol langsung keluar dari kelasku. Suasana belajar setelah 2 minggu penuh liburan adalah hal yang sulit bagi kelas kami, semua malas untuk mendengarkan penjelasan guru bahkan untuk mengangkat kepala, seperti yang aku lakukan begitu seterusnya sampai jam sudah menunjukkan saatnya kami berkemas untuk pulang, setelah bell tanda selesainya pelajaran berbunyi aku langsung berlari menyusuri koridor menuju kelas Jisoo.
"Jisoo ada di kelas?" tanyaku pada pria yang keluar dari kelas Jisoo itu
"Sebentar aku panggilkan" pria itu masuk lagi dan tak beberapa lama keluar bersama Jisoo kekasihku
"Gomawo Jihoon~ah" ucap Jisoo pada temannya itu
"Ada apa?" tanyanya
"Ayo pulang bersama"ajakku
"Aku mengambil tambahan pelajaran"
"Hah" aku menghembuskan nafasku kasar
"Kenapa? Maaf , kau mau aku temani kemana?" tanya Jisoo
"Ada film yang aku tunggu sudah diputar di bioskop"
"Pergilah bersama teman-temanmu, ini" Jisoo mengambil dompetnya dan memberiku card miliknya
"Yak! Tak usahhh" tangaku menghentikan tangannya yang mengulur untuk memberikan card itu padaku
"Sudah pakailah, pinnya adalah tanggal lahirmu"
"Tapi kau harus menemaniku jika kau tak sibuk, mengerti?" ucapku, Jisoo mengangguk lalu ia berbalik kembali memasuki kelasnya, aktingku selalu berhasil, tentu saja itu semua hanya akting, mana mungkin Jisoo mau pergi menonton sebuah film, tentu saja card miliknya lah yang aku butuhkan, bukan dia. Akupun segera berlari menghampiri Hansol yang sudah menungguku tak jauh dari kelas Jisoo.
"Lama sekali" keluh Hansol
"Kita berpesta" kutunjukkan card itu depannya
"Apa boleh aku membeli sepatu basket dengan itu?" tanya Hansol, aku mengangguk tentu saja boleh bukankah Jisoo bilang untuk bersenang senang dengan teman-temanmu.
********
"Drrdddrrrt"
"Yobosesyo?"
'Selamat ulang tahun'
"Gomawo Jisoo~yaa"
'Bisa kita bertemu? Aku ingin memberimu hadiah'
"Uhhuukk uhhuukkk aku sedang sakit"
'Sakit? Apa perlu aku kerumahmu?' tanya Jisoo dari balik telefon
"Tidak, besok kita akan bertemu disekolahkan? Maaf merepotkanmu, kado terbaik adalah dirimu Jisoo~yaa"
'Saranghae'
"Nado"
Singkat percakapanku dan Jisoo di telfon, hari ini memang benar hari ulang tahunku menyebalkan sekali ulang tahun dan sakit, dan itu tidak akan terjadi, pasti membosankan merayakan pesta bersama Jisoo yang bahkan lebih tau rumus matematika daripada cara menikmati pesta. Aku tidak dirumah sekarang aku dalam perjalanan menuju club malam. Bersama Hansolku dan teman-temanku yang lain.
"Kau tidak mengajak kekasihmu" tanya Seungkwan seraya mengambil segelas wine yang telah kami pesan malam itu
"Dia kekasihku" jawabku seraya merangkul lengan Hansol,
"Gesss"
"Selamat ulangtahun sayang" Hansol mencium bibirku dan memberikanku sebuah bingkisan
"Terimakasih"
"Selamat ulangtahun Hanna~yaa, mau memberi kami tarian sexymu?" tanya Hoshi temanku juga, kami sekelas dia dan Seungkwan adalah yang paling dekat dengaku aku tak punya teman perempuan, karena aku tak tau untuk apa aku membutuhkan teman perempuan
"Bagaimana? 1 lagu?" tawar Hoshi lagi, aku mengangguk
"Hoshi, putarkan lagu terbaik untuk Hannaku"
"Party...!!!" teriak Seungkwan sambil kami bersulang, kami menari bersama, bersenang-senang , sudah aku bilang kesalahan Jisoo menjadikanku kekasihnya, tp beruntung jika dia tak pernah peduli dan mau dimanfaatkan. Aku bukan gadis yang baik dan Jisoo sudah tau jelas tentang itu, jadi aku tak perlu minta maafkan?.
Semalaman kami berpesta sampai pagi, aku tinggal di apartemen karena ibu dan ayah pembisnis jadi mereka lebih suka memberiku fasilitas-fasilitas yang aku butuhkan. Sebenarnya aku cukup bisa dibilang berada, tapi bagiku aku masih miskin akan kasih sayang, jadi awal bagaimana aku jadi pemberontak tentu berawal dari keluargaku yg tak pernah peduli padaku, aku bebas mau pulang pagi atau tak pulang, itu bukan masalah besar. Masalah besarnya adalah sekarang kepalaku begitu pusing karena mabuk di pesta semalam, aku begitu malas untuk bangun apalagi sekolah, tapi jika aku tak masuk dan Jisoo mencariku dikelas lalu tau aku, hoshi dan seungkwan tak masuk, ia akan curiga jika aku berpesta semalaman, dan dengan berat hati akhirnya aku bangkit untuk bersiap pergi kesekolah.
"Selamat ulang tahun!!"
"Uwaahhhh"
Tiba-tiba aku dikejutkan oleh sebuah tangan yang membawa bingkisan yang tak cukup besar, itu kepadaku, tentu saja itu dari Jisoo, ia memintaku untuk kekantin karena ingin memberikan bingkisan hadiah itu.
"Kau masih sakit?" tanya Jisoo padaku
"Tidak, aku sudah sehat, ngomong-ngomong apa ini?" tanyaku sambil menujuk bingkisan itu
"Buka saja"
"Waahh kalung yang cantik"
"Biar aku pakaikan"
"Mana ponselmu?" ucapku setelah Jisoo selesai memakaikan kalung cantik itu di leherku. Aku ingin mengambil foto dengan ponselnya, aku tak mau Hansol marah jika tau aku menyimpan fotoku dan Jisoo.
"Ayo kita selca dengan ponselmu, paswordnya?" tantayaku
"Tanggal lahirmu"
"Ah baiklah"
Kamipun berselca bersama, fotonya nampak lucu dan manis. Entah kenapa saat melihat foto itu dan melihat Jisoo disana, baru kali ini aku merasa bersalah pada Jisoo, mungkin aku tak bisa terus bersembunyi untuk memanfaatkannya.
"Masih ada 1 kejutan lagi, bisakah nanti malam kau ke apartemenku?" tanyanya
"Nanti malam?" Jisoo mengangguk
"Baiklah akan aku usahakan, apa kau tak ada jadwal privat?" tanyaku balik
"Aku mengosongkan semua jadwalku untuk mu"
"jisoo~yaa"
"Wae?"
"Kau manis sekali"
"Aku kembali ke kelas dulu, jangan lupa, langsung ke apartemenku saja akan aku sms alamatnya paswordnya adalah tanggal lahirmu"
"Aku mencintaimu..!!" seruku seraya ku bentuk love sign saat Jisoo berlalu, aku tau seisi kantin memandangiku tak suka karena mereka tau aku mempermainkan Jisoo, tapi tak ada yang berani berkomentar.
Malam yang dijanjikan sudah tiba, aku datang di sebuah gedung aprtemen mewah yang ternyata tak begitu jauh dari tempatku tinggal. Seperti yang Jisoo kataka pasword pintu untuk nomor apartemen yang ia beritahu adalah tanggal lahirku, saat masuk aku sudah terkesan dengan lilin-linlin kecil yang di rangkai menjadi sebuah tepi hati. Dan Jisoo datang dengan sebuah bunga lalu dia menghampiriku dan memberikan bunganya padaku. Aku tersentuh, pria jenius ini bisa seromantis dan semanis ini, padahal ini hanya perayaan ulangtahunnya yang harusnya sudah selesai kemarin.
"Duduklah" aku duduk di kursi yg sudah Jisoo siapkan dan ia mengambil sebuah gitar, lalu memainkannya, memetik satu persatu senar gitarnya hingga menjadi sebuah alunan musik yg merdu.
"Jisoo~ya" kagumku padanya, ia sosok yg sempurna, tampan dan bisa melakukan segala hal.
"Selamat ulang tahun"
"Lagi?" tanyaku
"Walau terlambat aku harap ini berarti untukmu"
"Terimakasih Jisoo"
"Lagi?"
"Aku tak bisa mengatakan apapun selain itu" jawabku, Jisoo kini duduk disampingku.
"Aku begitu senang memilikimu" ucapan Jisoo sukses membuatku menatapnya, kenapa aku jadi menyesal seperti ini.
"Kau tau kenapa pin card, pasword ponsel dan juga pasword rumahku adalah tanggal lahirmu?"
"Kenapa?" aku menggeleng
"Aku tak pandai mengingat hal lain selain pelajaran, dan aku tak mau melewatkan hari ulangtahunmu"
"Aku mencintaimu" tambahnya , hatiku tercolos, bagimana jika Jisoo tau apa yg telah aku lakukan selama ini? Menyelingkuhinya dan memanfaatkannya saja.
"Jisoo kenapa kau mencintaiku? Jika aku jadi kau aku tak akan mau membuang waktuku untuk mencintai Hanna"
"Jika aku tau alasanku mencintaimu, itu bukan cinta. Jadi aku tak pernah mau mencari alasan tentang itu" jawab Jisoo
"Aku gadis buruk dan kau bisa menemukan yang lebih baik"
"Tak ada yang lebih baik dari gadis yang aku cintai Hanna"
"Dalam bahasa korea Hanna adalah satu dan dalam bahasa jepang Hanna adalah bunga, nama yg indah , dan kau adalah nomor 1 dan menjadi bunga hatiku" tambah Jisoo lagi, ini tak seperti biasanya ketika aku bertemu dengan Jisoo, kadang aku malas menghabiskan waktu dengannya, tapi kenapa malam ini begitu nyaman dan tenang saat bisa memandanginya sedekat ini.
"Hanna, apa kau sudah menemukan yang lebih baik dariku? Vernon mungkin?"
"Vernon?"
"Iya Vernon adalah nama kecil Hansol saat di New York, sebenarnya kami teman, tp dia selalu menganggapku saingannya, bahkan sampai sekarang mungkin tapi aku selalu ingin berteman dengannya, aku dengar kau dekat dengannya"
"Ahhh, begitukah??" hanya itu yg bisa ku katakan, tentu aku terkejut Hansol dan Jisoo bersaing sejak dulu? Apa maksudnya aku adalah pintu balas dendamnya? Pantas saja jika Hansol tak ambil pusing mengencaniku saat ia tau betul aku sudah berkencan dengan orang lain.
"Hanna"
"Eh, iya"
"Mungkin Hansol lebih tampan dan lebih segalanya dariku untukmu, dia bisa ada disekitarmu selalu, dan bisa menyenangkan hatimu, aku tau kau merasa jika Hansol lebih baik daripada aku tapi kau harus tau Hanna'ah , orang baik tak akan merebut milik orang lain"
"Deg"
"Apa maksudmu Jisoo~yaa"
"Tidak ,aku hanya mengatakan hal yang ingin ku katakan, oh ini sudah malam mau kuantar pulang?" tanya Jisoo
"Eh, aku pulang sendiri saja, terimakasih semuanya dan lagu tadi begitu romantis ini hanya perayaan ulang tahun dan kau merayakannya seindah ini, seperti kita akan merayakan untuk terakhir kali saja"
"Kita akan merayakannya setiap tahun bersama"
"Heem iya, aku pulang dulu ya"
Aku berpamitan dengan Jisoo dan rasanya begitu canggung malam itu, biasanya dengan manja aku akan memeluknya dan menciumnya, tapi entah kenapa kali ini berbeda.
*******
Pagi hari saat disekolah aku tak melihat Jisoo , saat istirahatpun aku tak menemukannya di kelas, saat aku bertanya pada teman-temannya mereka hanya bilang tidak tau, padahal aku sudah membuatkan bento untuk makan siang, sebagai tanda terimakasihku atas kejutannya semalam. Akhirnya kuputuskan untuk pergi kekantin memakan bento buatanku sendiri bersama Seungkwan dan Hoshi yang sudah kuhubungi, mereka akan dengan cepat datang jika ada makanan, namun belum saja aku sempat menemukan meja kosong untuk aku makan, manik mataku terarah pada orang yg aku kenal itu Hansol dan dia sedang bermesraan dengan seorang gadis disana, dengan geram kulupakan bentoku yg kuletakkan begitu saja.
"Yak! Hansol..!!" teriakku
"Heyy sayang"
"Hallo sunbaenim" sapa gadis itu padaku , dia ternyata adalah Ji eun adik kelas ku dan Hansol
"Kau memanggilku sayang dan masih merangkul bahu gadis ini?" kutunjuk gadis itu, ia tersenyum menyerigai
"Kenapa? Dia juga kekasihku" ucap Hansol santai
"Kekasih? Kau berselingkuh? yak! Kau gadis jalang pergi!" teriakku
"Mianheyo sunbaenim, siapa yang kau sebut jalang? Apa kau mengatai dirimu sendiri dengan sebutan hina itu? Hell semua orang tau kau berselingkuh dari Jisoo oppa dan memanfaatkannya saja, dasar jalang!!"
"Yak! Tutup mulutmu!! Kau mau mati sialan"
"Brak" kutendang meja di depanku dan kuraih kerah baju gadis bernama Ji eun itu.
"Kau mau main-main denganku?" marahku
"Hentikan sialan!" Hansol menarik gadis itu dan mendorongku kasar.
"Apa maksudmu?" tanyaku pada Hansol
"Kau pikir aku bodoh mau memacari kekasih sainganku sendiri? Aku dan Jisoo sudah bersaing sejak lama, dia selalu nomor satu, dia kaya, tampan dan adil jika aku mencuri gadis yang berarti baginya bukan? Kau bukan apa-apa bagiku, asal Jisoo hancur itu saja yang aku butuhkan, jadi sekarang pergilah"
"Sialan kau Hansol"
"Jisoo yang sialan, apa maksudnya selalu mengalah padaku, apa dia pikir aku tak bisa melakukan apapun tanpanya? Apa dia pikir dia yang paling pintar dan benar? Betapa muaknya aku ketika ia menemuiku semalam dan mengatakan aku harus menjagamu, memang dia siapa? Apa dia menyelamatkan hidupku sehingga aku harus menuruti semua permintaannya, membuatmu hancur untuk kehancuran Jisoo adalah keinginanku, aku sudah tak butuh kau"
"Yak! Hansol, asal kau tau, Jisoo adalah orang baik yang ingin berteman denganmu, itu saja terimakasih sudah memberitahuku siapa yang bisa aku sebut jalang"
Aku melangkahkan kakiku mundur beberapa langkah lalu berbalik, airmataku menetes begitu saja, sebutan jalang dan sialan memang begitu tepat untukku, aku harus menemui Jisoo dan minta maaf padanya, ia pasti sudah tau semuanya jika ia menemui Hansol .
"Hanna" panggil Seungkwan yang ternyata sudah ada disitu bersama Hoshi, mereka memandangku kasihan, aku pasti terlihat kacau.
"Kita harus pergi sekarang sebelum terlambat" ucap Seungkwan
"Eh"
"Semalam Jisoo menemui kami dan mengatakan akan pindah ke LA hari ini dan meminta kami menjagamu, sebenarnya dia meminta kami merahasiakannya sampai ia pergi darimu tapi melihatmu seperti ini aku tak tega, dan kita harus pergi" timpal Hoshi menjelaskan, tubuhku kaku seketika, mataku lebih memanas dan airmataku menetes lagi lebih deras, aku dan ditemani kedua sahabatku pergi menuju bandara, entah cukup waktu atau tidak, entah aku bisa mengucapkan maaf dan kata penyesalan atau tidak, atau mengatakan jika aku mencintainya, mungkin benar aku pernah menggunakan cinta kearah yang salah, tapi sungguh memang Hansol adalah tipeku tapi Jisoo adalah orang yang lebih dulu aku cintai. Dalam perjalanan aku mencoba meghubungi Jisoo dan mengiriminya pesan terus menerus walau aku tau nomornya sudah tidak aktif lagi. Jadi pesta semalam benar pesta perpisahan dan bukan pesta ulangtahun. Sesampainya bandara aku dan Seungkwan belari keluar lebih dahulu karena Hoshi harus memarkirkan mobilnya, beruntung aku memiliki sahabat seperti mereka, manik mataku terus saja mencari orang yang ingin aku temui itu.
"Aku lihat jadwalnya masih 15 menit lagi" ucap Hoshi yang sudah menyusul ku dan Seungkwan
"Pasti dia sudah masuk keruang pemeriksaan" timpal Seungkwan
"Aku harus kesana"
"Tak semua bisa masuk, harus Jisoo yang keluar"
Aku tak mendengar ucapan mereka, persetan dengan aturan yg tak memperbolehkan setiap orang masuk, tinggal 15 menit lagi dan aku harus menemui Jisoo segera atau tidak sama sekali.
"Kumohon izinkan aku masuk" ucapku memohon pada 2 security dihadapanku
"Hanya sebentar 5 menit" ucap Hoshi membantuku
"Dia harus menemui cinta matinya" ucap Seungkwan, aku dan Hoshi mengangguk, semua orang yg sedang mengantri untuk masuk menjadikan kami tontonan
"Orang itu harus yang keluar, hubungi saja dia dulu"
"Nomor Jisoo tak bisa dihubungi" ucapku
"Jisoo? Hong Jisoo??" seseorang menghampiri kami, orang yang cantik untuk ukuran pria, aku mengangguk membenarkan
"Kau siapa?" tanyaku
"Aku Jeonghan, Jisoo adalah adikku kau siapa?" tanya pria cantik bernama Jeonghan itu
"Dia adalah calon adik iparmu, cepat panggil Jisoo. Hyung" seungkwan dengan tidak sopan mendorong orang yang akan membantu itu masuk untuk memanggil Jisoo, seperti takdir untung saja kami bisa bertemu kakak Jisoo, aku tak tau jika ia punya kakak laki-laki.
"Hanna" panggil suara yang aku cari, orang itu benar benar Jisoo, aku berlari dan langsung memeluknya dengan erat, aku merasa ia juga membalas pelukanku.
"Senang masih bisa melihatmu" tangisku
"Kenapa menangis?" tanyanya
"Masih bertanya kenapa?? Kenapa kau mau pergi tanpa memberitahuku dan menitipkanku pada semua orang, apalagi pada Hansol"
"Bukankah kau mencintai Hansol?" tanya Jisoo
"Apa kau tak mencintaiku? Apa karena aku gadis yang buruk jadi kau menyerahkanku pada pria buruk juga?" tanyaku
"Aku mencintaimu jadi aku bertahan untuk terus bersamamu, aku sudah tau lama jika kau dan Hansol berpacaran, aku berpura-pura tak terjadi apa-apa karena aku tau Hansol hanya memanfaatkanmu, tapi sepanjang hari aku pernah melihatmu dan Hansol bersama tatapannya padamu sangat tulus jadi aku pikir kalian saling mencintai jadi aku melepasmu untuknya" jawab Jisoo , jadi selama ini Jisoo menahan sakitnya sendiri berpura-pura tak tau apa-apa jika kekasihnya berselingkuh
"Kau sudah tau?"
"Lama sekali aku tau, bukankah aku pernah bilang aku suka melihatmu dari belakang, karena kau tak akan tau jika ada yang memperhatikanmu"
"Jadi kau tetap mau pergi dan tak mau mempertahankanku?" tangisku, airmataku terus mengalir aku tak bisa membayangkan sendiri tanpa Jisoo
"Aku memang tak berniat mempertahankanmu" ucapan Jisoo membuatku tercekat kaget
"Kenapa?"
"Karena jika memang kau tulus mencintaiku, tanpa perlu kupertahankan kau akan terus bertahan disisiku Hanna~ah, sebagaimana aku bertahan untukmu ketika aku tau kau berselingkuh, bukankah aku bertahan tanpa kau minta??"
"Jisoo maafkan aku"
"Bukan padaku kau harus minta maaf, minta maaf pada dirimu dan jadilah yang lebih baik, hidup lebih baik , jangan buang waktumu untuk kesenanganmu saja, tapi kesenangan orang lain agar kau bisa merasakan bagaimana hidup itu, jika kau menyesal karena perselingkuhan aku tak masalah itu bukan kesalahan besar, kesalahan besar adalah jika kau menghabiskan harimu untuk menyesali tanpa memperbaikinya"
"Aku mencintaimu" ucapku memberanikan diri , aku berjinjit dan kukecup bibir Jisoo lama, sampai akhirnya aku melepasnya.
"Aku akan datang padamu lagi, bungaku meski kutinggalkan kau dikorea aku harap kau lebih merekah dan bersinar Hanna"
"Jisoo, ayo pergi" Jeonghan kakak jisoo mengingatkan adiknya jika ia harus segera pergi meninggalkanku
"Selamat tinggal" ucap Jisoo sebelum ia berbalik kupengangi tangannya.
"Ucapkan sampai jumpa, setidaknya itu bisa membuatku lega karena kau akan menemuiku lagi walau entah kapan itu"
"Sampai jumpa sayang" ucap Jisoo seraya mencubit bibirku sayang seperti yang sering ia lakukan ketika tau aku mengumpat didepannya. Aku akan benar-benar merindukan Jisoo, akan sangat benar- benar merindukannya.
6 tahun kemudian.....
"Dimana Hoshi?" tanyaku pada Seungkwan, awas saja jika dia bolos privat untuk ujian negara kali ini, bagaimana bisa dia mengulang lagi, aku sudah lulus dan mereka berdua masih saja tak ada perubahan meski mereka lebih rajin dari saat SMU dulu, dan semua menjadi lebih baik, ucapan ucapan di bandara 6 tahun lalu aku jadikan sebuah janji pada Jisoo yang harus aku tepati, selama Jisoo lelaki yang sudah membuatku menempatakan cinta kearah yang benar itu pergi ke LA untuk menuntut ilmunya lebih tinggi, aku juga berusaha keras untuk menjadi yang lebih baik dari sebelumnya, kuhilangkan kehidupan luar dan ku bersihkan rumor-rumor jahat yang pernah ditujukan padaku, aku belajat begitu keras agar bisa masuk ke perguruan tinggi terbaik dan lulus dengan tepat waktu, waktu yang dulu sering kuhabiskan untuk mabuk-mabukkan kini aku lebih sering melakukan kegiatan sosial, aku mencatat semua kegiatanku membantu di panti asuhan,mengajar anak-anak pedesaan kecil yang jelas aku mencatatnya agar bisa kupamerkan pada Jisoo jika kami bertemu lagi, entah kapan. Aku tak memperbaiki diriku sendiri 2 sahabat baikkupun juga, mereka lebih baik walau kadang masih merepotkan seperti dulu.
"yak! Cepat selesaikan kuliahmu bodoh!!!" teriakku ketika Hoshi mengangkat telfonku
'Aku sudah sampai, berbaliklah crewet' mendengar suara Hoshi, aku langsung berbalik dan betapa terkejutnya aku ketika kulihat Hoshi tak sendiri, seorang lelaki yang aku rindukan dan aku nantikan berdiri disamping Hoshi, ia tersenyum kearahku. Aku tak bisa bergerak dari tempatku berdisi sangking senangnya.
"Jisoo" panggilku lirih
"Ya, ini aku" lelaki itu melangkahkan kakinya maju , pelan namun pasti ia mendekat kearahku
"Jisoo" panggilku lagi, air mata bahagiaku tumpah begitu saja
"Hmm, iya" dengan lembut Jisoo mengusap pipiku yang basah
"Aku merindukanmu" kupeluk Jisoo yang membalas pelukanku juga.
"Aku sangat merindukanmu"
"Jangan pergi lagi"
"Aku akan membawamu bersamaku"
Jisoo melepas pelukanku dan ia mengeluarkan sesuatu dari saku jas hitam yang membuatnya semakin gagah itu, ia mengambil kotak kecil dan mulai membukanya perlahan dihadapanku.
"Mungkin aku bisa mengatakan aku mencintaimu setiap waktu, tapi aku hanya akan mengatakan hal ini kepada 1 orang saja dan aku hanya melakukan sekali dalam seumur hidupku, Will you marry me" ternyata bingkisan itu adalah sebuah cincin cantik
"Jisoo"
"Jisoo tak perlu repot- repot menanyakannya, Hanna menunggu untuk ini" celoteh Seungkwan ingin kubungkam mulutnya.
"Yak! Jugule!" umpatku
"Jadi bagaimana?" tanya Jisoo sambil ia mencubit bibirki sayang, ku pegang tangannya
"Tentu saja, kau harus menikah denganku aku tak bisa menolaknya" jawabku, kucium bibir Jisoo dengan sedikit lumatan kecil, lalu berhenti untuk menerima cincin dari Jisoo
Mungkin kata orang Jodoh adalah cerminan dirikita masing-masing, tapi tak ada yang bisa tau dengan siapa kita berjodoh, meski kesalah dimasalalu bisa membuatku menjadi gadis buruk yang tak layak dicintai, tapi siapa sangka kata memaafkan bisa membuat penyesalan menjadi pengiring untuk kita menjadi lebih baik lagi, karena tak ada yg tau siapa yg menjadi jodoh kita nanti tak ada salahnya memperbaiki diri karena keinginan semua gadis adalah lelaki yang baik. Terimakasih Jisoo masih mau menerimaku dan mempercayaiku agar aku bisa menempatkan cintaku pada jalan yang benar tentu saja dengan menempatkan hatiku pada lelaki baik sepertimu.
End
Entah kenapa suka bgt pair in Vernon sama Joshua kalau masalah saingan-saingan gtu , trus seneng aja klo jadiin Hoshi sama Seungkwan jadi sahabat yang selalu ada, maaf kalo FFnya gaje dan warning! Typo is my style
